Selasa, 30 Juli 2013

apre's la pluida (setelah hujan)

Lihatlah !

Sorot matanya tajam seperti burung elang, ia menatapmu lekat, memperhatikan, menelisik dari ujung kepala hingga kakimu. Seakan-akan kamu merasa dipandangnya tanpa busana –memalukan!-. dua bola mata itu berbalik memutar layaknya orang kesurupan. Merasa tak ada yang menarik untuk dibanggakan. Lantas kemudian berlalu. Meninggalkanmu dengan segenap perasaan tak senang (baca: terhina).

Saat berbicara mulutnya berbisa, mematikan lawan dengan kata-kata racunnya, aiih .. sudah seperti ular saja! Saat kamu mencoba berinteraksi denganya, sekedar menimpali dengan kata-kata terbaikmu, atau bisa saja saat kamu mencoba memujinya, ia lantas menendangmu dengan kosa kata yang serupa, dengan kerendahan hati, kamu bangkit dan tersenyum, dibalasnya dengan pijakan kaki di kepalamu, lantas ia melangkah dengan gagah, merasa bangga. Saat itu kesabaranmu digerogotinya. Tikus got yang tak pernah mengecap bangku sekolah.

Senyumnya menyungging, kecut dan tak berperasaan. Seperti melihat tikus got yang lari di jalanan lantas tertabrak kendaraan. Hewan malang yang menjijikan. Tak penting!

Jika ia memiliki hati, sepertinya ia terbuat dari sebongkah batu es abadi -dingin dan keras- namun sayang ia tak bisa mencair. Seperti batu karang yang berdiri angkuh, kasar, kuat, keras dan kemungkinan besar terluka saat kamu bermain-main dengannya.

Tapi dengan jiwa besarmu, lagi-lagi kamu mencoba mendekatinya dan tak menghiraukan goresan-goresan luka dihatimu. Kamu bilang ‘aku hanya sedikit terserang flu’ yang hanya dengan kesabaran ia akan hilang. Masih saja ia angkuh dengan  kesendiriannya, keterpurukannya, dan keputus-asaannya, saat ternyata segala sesuatu tak lagi berputar pada rotasinya, tak lagi berjalan di arahnya, bahwa kenyataan waktu tak lagi memihaknya. Ia masih saja bangga dengan kesombongan. Ketika itu, kamu membawa dua buah apel kesukaanmu. Dengan segenap rasa syukur kamu mengunyah apel itu, terasa nikmat, manis dan lezat. Kamu meliriknya,ia menatapmu lantas mengalihkan pandangannya. Dengan dua langkah kaki, kamu sodorkan apel ke-duamu dengan segenap keikhlasan. Tapi ia mengacuhkanmu, kamu sodorkan lebih dekat, ia melirikmu dan melirik apelmu. Dengan ragu dan penuh gengsi ia menerima apel itu dan menggigitnya. ‘Apel ini biasa saja’ pikirnya, tidak seperti yang dibayangkannya saat ia melihatmu memakan apel itu. Dengan keki ia lemparkan apel itu dihadapanmu.

Mungkin saja indra pengecapnya telah mati. Lebih mungkin lagi indra perasanya tak berfungsi, dan yang pasti ia telah kehilangan dirinya, dan mati sejak lama.


#**Janganlah kamu menjadi seperti ‘dia’ namun jangan pula ingin menjadi seperti ‘aku’ karna “jika kamu ingin menjadi seperttiku, siapa yang ingin menjadi sepertimu?”  **


kamu tahu? dia mungkin angkuh, sombong, tidak berperasaan, keji dan segala keburukannya. itu membuatmu mengelus dada dan kasihan. tidakkah kamu tahu juga? kamu tak punya harga diri di matanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar