Selasa, 07 Februari 2012

JASMINUM SAMBAC

JASMINUM SAMBAC

“Apalagi yang mesti dibanggakan, saat nafas hanyalah kesunyian ..
Dan maut tersenyum disetiap jembatan,,”

          Kini aku berdiri diantara batu-batu bernama, dihadapan ku terdapat dua gundukan  tanah merah, aku hanya mampu menatapnya dengan hati teriris dan tak percaya,,
          Aku seorang gadis berusia delapan belas tahun yang menjadi seorang ibu, aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci piring, mencuci baju, bersih-bersih, menyetrika, memasak, dan menyiapkan baju seragam serta sarapan. Semua aku lakukan sendiri, sejak ibu meninggalkan aku bersama andin di rumah. Ibu pergi demi sebuah bisnis yang sampai saat ini aku tidak  tahu namanya.
          Sepeninggalan ayah, ibu  sering menghabiskan waktunya dikamar, jarang makan dan seringkali aku melihatnya melamun. Padahal sebelumnya ibu adalah orang yang sangat ceria dan senang bercerita. Ayah adalah seorang pengusaha sukses. Ia memiliki perusahaan tahu di bogor, dan dua buah hotel berbintang di Jakarta. Walaupun kami inggal di bandung. Hal itu sempat menjadi bahan rebutan, karena orang ta ayah meminta ayah untuk tinggal serumah dengan mereka di Jakarta, begitu juga dengan orang tua ibu di bogor. Dari sanalah di ambil inisiatif untuk tidak tinggal di rumah orang tua. Selain itu ayah dan ibu juga memang sudah memiliki rencana lain, dan mereka memilih untuk tinggal  di bandung “kota kenangan”. Tempat pertama kali ayah dan ibu bertemu, hal ini aku ketahui saat ibu berulang tahun yang ke-35. “ayah bertemu ibumu itu di bandung ini mel,,”begitu kata ayah. Saat kami makan malam di sebuah restoran. Ibu hnya tersenyum saja mendengarnya dan andin adikku saat itu berusia tiga tahun manggut-manggut entah dia mengerti atau tidak.

Setelah makan, ayah mengajak kami ke suatu tempat “ada yang sepesial” begitu kata ayah. Saat itu andin sudah tertidur di kursi jok sebelahku,sedang aku ngantuk berat. Karena malam sebelumnya aku begadang untuk menyelesaikan tugas makalah bahasa Indonesia. Maklum aku kelas tiga SMP diserang berbagai macam tugas. Sesampainya di tempat tujuan, lalu ayah mengajak kami turun. “ASTI” Terpampang dengan jelas nama ibu disana. Di sebuah gedung boutique yang kami tuju. Itulah hadiah special ayah untuk ibu.
          Hari itu hari senin, waktu aku kelas dua SMA. Jelas teringat saat aku bolos sekolah  gara-gara buku tugasku tertinggal dirumah. aku tidak ingin dihukum, tapi jika pulang pun tidak mungkin,. Aku pasti dimarahi ayah dan ibu jika  mereka tahu aku tidak masuk kelas. Maka aku putuskan untuk pergi ke kantin, setelah menghabiskan satu mangkuk bakso, tiba-tiba aku teringat rumah, akupun pulang tanpa berfikir panjang.
          Dirumah, aku tidak menemukan siapa-siapa. Padahal sudah aku persiapkan beribu macam alasan untuk menjawab pertanyaan ibu.
“kemana orang rumah? Kok sepi,,,”aku heran. “mungkin jalan-jalan “ begitu fikirku. Maka aku putuskan untuk ganti baju. “Posisi aman” seruku dalam hati.
Di pintu kamar kudapati sebuah note. Tanpa  berfikir panjang aku langsung berlari keluar dan mencegat taksi “ rumah sakit indah”.
***
          Aku menangis ssejadi-jadinya, dirumah sakit kudapati ibu tak sadarkan diri, dan ayah, sudah ditutup kain kafan.ayah telah meninggal karena serangan jantung. Semua keluarga ada disini. Mereka semua menangis, dan nenek (ibu ayah) memelukku dengan sanang digat erat, sambil berkata “berita itu,,, ma maa..masa itu,, fitnahh,,,mereka sangat kejaaamm,,” tapi aku tak mengerti apa  yang dikatakan nya “maksudnya apa ?” dan aku terus menangiss,,.
***
          “pormalin” itulah yang membuat perusahaan tahu ayah di tutup. Ayah digugat dan  menjadi catatan polisi. Sedang hotel habis dibakar masa karena diduga menjadi  tempat hubungan gelap. Selama ini aku tidak tahu hal itu, dan aku tidak percaya. Hal ini yang membuat ayah terkena serangan jantung  dan kemudian meninggal. Tak urung boutique ibu pun kehilangan banyak pelanggan dan khirnya bangkrut.
          Semenjak kejadian itu, ibu seolah melupakan aku dan andin. Ia tidak mau makan dan seoalh kehilangan kata, ia tak ingin berbicara. Aku mengerti, mungkin ibu merasa sangat terpukul dan belum bisa menerima kenyataan. Karena aku uga pernah merasakan hal yang sama. Tapi aku tidak ingin terus terlarut. Aku khawatir dengan kondisi ibu yang semakin hari semakin memburuk.
          Aku memasuki ruangan itu, semakin sepi,, hampa,,asing,,dan gelap. Begitulah kesanku terhadap kamar ibu sekarang. Seperti tidak ada  enghuninya. Ibu duduk di kursi dekat jendela, kursi goyang yang ia pilih untuk menghabiskan waktunya. Di hadapannya ada sepiring makanan dan segelas air, itu artinga ibu tidak makan.
          “ibu, ada tamu buat ibu” hati-hati aku mengatakan hal itu. Namun ia tidak bergeming, masih memandang kosong ke luar jendela.
          “ibu,,ada tamu yang ketemu ibu” ku ulangi kata-kataku, namun ibu masih juga tidak meresfon bahkan tidak bereaksi apa-apa. Aku putuskan untuk ku parsilahkan saja tamu itu, karena aku piker tamu itu sangat penting, karena dia teman ayah.
          Besok aku ujian nasional dan aku merasa sangat senang. Bukan karena ujian tapi karena ibu sudah mulai bersikaf seperti dahulu, dan aku akan merasa tenang mengisi soal ujian.
          Hari ini ibu pergi dengan om andi ke Jakarta. Teman ayah yang tempo hari datang ke rumah. Aku tidak merasa khawatir karena om andi orang yang baik, begitu menurutku.
***
          Hari ini, hari pertamaku ujian nasional, sekaligus hari pertama aku menyandang profesi ganda. Aku mempersiapkan segala keperkluan andin dari bangun tidur hingga mengantarnya sekolah. Alhasil aku terlambat lima belas menit masuk kelas, beruntung tim indefendent tidak melihatku dan aku diperbolehkan pengawas masuk kelas. Ini terjadi karena ibu tidak pulang  malam tadi.
          Ternyata apa yang di bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan dan itu sangat menyakitkan. Semenjak hari itu ibu tidak pernah pulang hanya sekali ia menelpon “ ibu masih di Jakarta ada bisnis” ujarnya saat aku Tanya alasan ia tidak pilang. Bisnis apa? Pertanyaan itu tidak pernah bisa aku ungkapkan.
“ibu ingin kamu sekolah setinggi-tingginya, makanya ujiannya yang bener, ibu juga nitip jagain andin baik-baik yaa,,”
“kapan ibu pulang ?”
“secepatnya sayang, sampai kerjaan ibu kelar,,” terdengar parau suara ibu.
“ ibu sibuk banget yaa ? sampai gak bisa pulang,,”
“ ini demi kalian sayang ,, percayalah pada  ibu”
Aku sayang ibu,,” tiba-tiba tenggorokanku terasa sakit.
“ ibu juga sayang kalian “
          Aku tidak mampu berkata-kata lagi, tapi aku tahu satu hal, ibu talah bangkit dari keterpurukan.. tapi, mengapa ia terasa begitu jauh..
Terdengan suara mobil memasuki halaman depan “ itu pasti andin” akupun langsung keluar untuk menyambutnya.
“hai sayang, gimana sekolahnya?”
“asyik kak, belajar nyanyi-nyanyi gitu,,dan aku goyang,, jogett dangdut kak..” jawab andin sambil memperagakan jogetnya,, akupun tersenyum.
“ ya sudah,, sekarang ganti baju dulu gih, habis itu kita makan.”
Andinpun langsung lari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
“makasii ya fer,,aku jadi ngerepotin kamu” ku ucapkan terima kasih kepada ferdy. Dialah orang yang selalu mengantar dan menjemput andin.
“ masuk dulu yuukk..!” ajak ku.
“sekarang aku mau nganter mama arisan, gag papa kan ? nanti malam aku kesini  decchh,,”
          Setelah pamit ferdy pun menstarter mobilnya dan pulang.
Senja hendak pamit, matahari di upuk barat telah tenggelam menuju peraduannya, menyisakan semburat mega merah. ake rasa hari hamper gelap. Libur kali ini cepat sekaliberlalu, ya,, hanya satu minggu memang, liburan setelah ujian sekolahku usai.
          Sejak pagi aku mengotak atik computer, sperti kebiasaan ku tiga hari kebelakang, tapi kali ini dengan satu makalah tebal. Yang baru aku selesaikan malam tadi. Aku sedang mempersiapkan tugas akhir sekolahku “siding makalah”. Perutku terasa sakit sekali, karena dari pagi aku belum menyentuh makanan apapun. Itulah masalahku , jika hendak mengejar target.
Terdengar suara mobil berhenti di halaman depan, dan seseorang yang memasuki rumah setengah berlari, langkah itu semakin jelas terdengar, semakin dekat dan sepertinga hendak menuju ke kamarku.
“ kau membuat aku khawatir, andin bilang kamu sakit, sakit apa? Kenapa tidak menelpon??” tanyanya sambil menempelkan telapak tangannya di atas keningku, terlihat jelas kekhawatirannya ketika melihat aku terbaring di atas kasur, ia pun uduk di sebelahku. Orang itu tidak lain adalah ferdy. orang yang selau mendengar keluh kesahku dan menemani aku dalam suka dan duka. Sehingga aku member predikat “orang tersetia sedunia”.
“aku tidak apa-apa. Hanya sedikit demam, dan aku sudah minum obat” jawabku “mungkin aku terlalu lelah mengejar target untuk siding makalah “
“teus kamu lupa makan dan begadang “ selanya.
Seketika hening.
Itu terlontar begitu saja. Aku menarik nafas dalam-dalam.
“aku tida tahan dengan semua ini, kehidupan macam apa ini ? sepert apa sebenarnya keluarga itu ?”
Pangkal tenggorokanku mulai terasa risi , dan terasa begitu panas di kedua mata.
“aku telah kehilangan seorang ayah, dan ,, kali ini aku ditinggal seorang ibu,,”kali ini aku   tidak dapat menahan air mataku.
“tenanglah,,ibumu pasti mempunyai alasan untuk ini,,” ferdy mencoba menenangkanku.
          Aku berjalan di koridor sekolah, begitu panjang rasanya lorong ini,,meski aku setengah berlari, tak jua aku sampai di tempat tujuan. Mungkin, karena hari ini, hari yang berbeda,, aku datang dengan tujuan dan kesempatan yang berbeda, hari yang menegangkan, dimana aku akan berhadapan langsung dengan seluruh guru di sekolahku, untuk mempertanggungjawabkan makalah yang sudah aku buat. Akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Aku pun langsung masuk.
***
          Matahari pagi ini begitu cerah, ditmbah kicauan burung yang terbang beriring hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain.menambah keindahan panorama alam. Mobil yang kami tumpangi pun memasuki halaman sebuah restoran. Aku kontan tersenyum. Tadi pagi-pagi sekali ferdy datang ke rumah memaksa aku dan andin untuk ikut dengannya.
“aku kira akan ada penyerbuan masa ke rumahku” ucapku sambil tersenyum. “eee,,,taunya mau diajak makan” lanjutku. Ferdypun tersenyum.
“aku kan mau kasih surprise sekalian ngerayain siding makalah kamu” katanya.”kamu hebat bisa dapet nilai A ,, ayoo !” ajaknya seraya keluar dari mobil.

“mau makan apa anak manis ?” Tanya ferdy kepada andin.
Pertanyaan itu di jawabnya dengan muka jutek sambil manyun. Mata ferdy pun beralih kepadaku. Aku hanya mengangkat bahu saja.
“mau es cream” jawabnyatiba-tiba.
“anak manis,, makan dulu ya,, nanti baru beli es cream”
Mendengar itu andin langsung mengabsen makanan favoritnya untuk dipesankan.
“kamu?” Tanya ferdy kepadaku.
“akku seperti biasa” jawabku singkat.
Setelah makan andin langsung menagih janji ferdy untuk dibelikan as cream.
“iya,, tapi tidak disini saying,, kita beli di,,”
“taman kota,,” lanjut andin .
Andin hafal betul tempat itu, tempat nongkronkami bertiga, sekaligus tempat favoritnya karena disana ia bisa makan es cream sepuasnya.

          Turun dari mobil andin langsung duduk di bangku taman, sedang aku asyik memotret sekeliling taman. Ferdy datang dengan setumpuk es cream di tangannya. Andin pun langsung melompat dan seketika beberapa es cream oun berpindah tangan kepadanya”uuhhh…sedaaapp”. Dilahapnya es cream itu. Ferdy pun duduk di sebelah kiri andin.
Andin terlihat asyik dengan es creamnya, selain mnikmati, ia juga bisa mencoret-coret muka ferdy dengan es cream sampai mengenaskan. Akupun ikut bergabung menikmati es cream di sebelah kanan andin. Sesekali andin bertanya dengan mulut penuh atau mengomentari apa saja yang dilihatnya.
“lihat itu..” seru ferdy sambil menunjuk seorang ibu gendut yang mengenakan rok mini dan tang top.
“buntelan” jawab andin.
Kontan kami berdua tertawa. Dari jauh sepasang mata memperhatikan kami seraya berjalan hendak menuju ke arah kami. Dan benar ia menuju ke arah kami. Aku,andin, dan ferdy.
Setelah tepat dihadapan kami, laki-laki itu pun tersenyum.
“kalian keluarga yang bahagia” katanya sambil berlalu.
Kontan kami  saling melihat satu sama lain. Lalu kami tertaw bersamaan tiba-tiba aku ingat seseoarang. Ibu..
          Tiba-tiba aku merasa dingin, semakin lama semakin dingin .. dan sepertinya ada sesuatu yang bergerak di atas kakikku. Dengan malas ku bukakan mataku. Terlihat andin sedang berusaha melepas selimut yang tnggal di ujung kaki ku.
“bangun kak mel !” suaranya terdengar kesal. Tapi aku ingin menikmati mimpi libur kali ini. Ku tarik lagi selinut dan kembali tidur. Rupanya andin tidak putus asa, ditariknya lagi selimutku, dan di tambah dengan stu teriakan khas “ kebakaran !! “ akupun menyerah dengan malas ku gelitkan tangan dan bangun. Terasa hangat cahaya matahari yang masuk ke jendela kamar. Tiba-tiba andin datang dengan gagang telpon dan memijit-mijit angka ..”nihh “ lalu menyodorkannya kepadaku.
“saying ibu sekarang di bandung.  Tapi tidak bisa pulang hari ini, mungkin  besok atau lusa.”
Mungkn..??besokk..??lusa..?? kapan itu buu?? Aku sangsi hari itu benar-benar ada.
“jaga andin baik-baik ya,,ibu sayang kalian,,”
“kami juga,,” jawabku setengah berbisik.
Ku letakkan kembali gagang itu, setelah suara di sebrang mengakhiri pembicaraan nya. Selama ini aku selalu menantikan kepulangannya, juga andin.
“ibu mencintai kita”. Selalu itu  yang aku katakana kepada andin.
Tapi kali ini, aku tidak tahu seperti apa ibu sekarang, entah aku harus mencintai atau membencinya.
“kupu-kupu malam !!” begitu teriris hatiku mendengar julukan tetangga terhadap ibu.
“iya,,dia bolak balik hotel siang malem sama laki-laki orang lagi,, di kota metropolitan itu.” Timpal tetangga yang lain.
Masih terdengar jelas kata-kata itu , terngiang dan tak pernah bisa aku lupakan. Kata-kata itu bagaikan sembilu menusuk-nusuk ulu hatiku. Saat aku tengah membeli sayuran di jalan depan rumah.
Ibu?? Sosok seperti apakah ibuku ??.
***
“aku mengadu pada –Mu..
Dengan segala gundah yang mendekam di relung kalbu..
Ku curahkan pada-Mu ,
Resaah hati yang memenuhi nurani,
Birlah ku ruangkan segala ketakutan,
Saat senua menjadi tanda Tanya..
Beribu harap atas –Mu..
Tuhan .. kuatkanlah hatiku,,”

          Disepertiga malam ini, aku bersujud kepada-Nya, dengan air mata berjatuhan yang tidak dapat aku tahan. Mengadukan semua yang aku rasakan. Berharap tuhan menjawab semua ketidak pastian,.
“tuhan , berikan aku kekuatan hati, luruskanlah semua yang telah salah.”
“ini, “ dia menyodorkan map dan berkas-berkans.
“ibumu meminta aku untuk memberikan berkas-berkas ini pada mu, jka dia telah tiba,,” lanjut pak suboto. Seorang kuasa hokum keluarga kami.
Jika dia telah tiba ? tapi?? Ibu,??? Apa maksudnya..?? pertanyaan itu bermunculan begitu saja di kepalaku, tanpa bisa aku menanyakannya. Ku terima map dan berkas-berkas itu dengan hati bergetar,, ada perasaan takut dalam hatiku, namun aku mengusir semua pikiran  buruk tentang ibu. Perlahan aku membuka dan membacanya. Kertas itu berisi tentang sebuah boutique, hotel, pondok bambu, dan rumah yang aku dan andin tempati sat ini, semua tertera atas nama “melati dan andin”.
Tuhan inikah jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan ku ?  ibu merintis kembali boutique nya yang telah bangkrut, dengan nama yang tidak asing lagi bagiku “jasminum sambac”.
          Aku teringat saat sekolah dulu, guru biologiku selalu memberikan hafalan bermacam-macam binatang, bunga dan tanaman-tanaman lainnya dalam bahasa latin biologi yang disebut dengan “binominal nomenclature”, system penamaan makhluk hidup menurut carolus linaeus. Dan  setiap hendak masuk kelas kami harus dapat menyebutkan satu saja istilah itu sebagai  break fast , dan aku selalu menyebutkan istilah yang sama setiap hari yakni “jasminum sambac” yang artinya bunga melati. Dan sekarang ibu mengukirnya di atas boutique itu. Tiba-tiba mataku terasa begitu panas. Dua hotel berbintang ayah ? bagaimana ibu bisa? sejauh ini ibu telah melangkah.
“iya, dia bolak-balik hotel siang malam, sama laki-laki orang lagi, di kota metropolitan itu.” Teringat lagi kata-kata itu, begitu jelas terngiang. Jadi, selama ini ibu membangun kembali hotel ayah dengan rekan-rekan ayah yang dulu. Belum hilang perasaan terkejut dan banggaku kepada ibu. Aku membacanya sekali lagi. Pondok bambu? apa itu? ya tuhan ,, ibu membangun pesantren kecil ? di bandung? hal yang tak pernah terfikir oleh ku.
“ia ingin kamu sekolah setinggi-tingginya “ lanjut pak subroto.
“namun, tuhan telah menjemput ibumu dalam kecelakaan pagi tadi. Mobil yang ibumu tumpangi kehilangan rem, jadi saat di tikungan ibumu dengan sopir tak dapat di selamatkan.”
Kata-kata itu bagaikan godam memukul ulu hatiku. Seketika aku hancur. Aku tidak percaya mendengarnya. Tiba-tiba kepalaku pusing, dunia seolah berputar,, semua benda menjadi dua ,,kunang-kunang,,remang-remang,,dan gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
***
“kak melati”.. suara andin membuyarkan lamunanku. Seketika aku tersadar, begitu lama aku terlarut dalam kisah tragis itu. Ku usap kedua mataku dengan tisu yang diberikan andin. Ku taburkan bunga melati dengan panjatan doa untuk kedua gundukan tanah merah di hadapanku. Untuk ibu tercinta, dan laki-laki yang aku cintai setelah ayah meninggal sati tyahun yang lalu. Dialah kekasihku, ferdy. korban tabrak lari.serta ku titipkan doa untuk ayah yang tidak di kuburkan disini.
Tuhanpun menjawab.
“ibu, akan aku jaga andin sebaik-baiknya. Aku janji.”

Ku peluk andin erat-erat . dan kami tinggalkan tempat itu dengan setumpuk bunga melati.
Wed_nov 11st 09.


“hidup adalah sebuah anugerah,
Kita tidak akan pernah tahu,,
Betapa berharganya..
Apa saja yang telah kita miliki,,
Sampai kita kehilangannya..

Sebaliknya, kita tidak akan pernah tahu,,
Bagaimana rasanya kehilangan ..
Jika sesuatu itu tidak pernah datang,,”

 Terima kasii bwadd bu rimaa,,guru bhs. Indonesia kuq  tercintaa.. 
  • Bwadd bu ranii juga,, 
  • Bwadd temen-temen seperjuangann,, 
Hehee,,, ada yang masii ingatt,,??
  • Bwaad onyet selagomongg,, maavv yaa,,,haruus nya ini story about u,,ehhs malah nyimpang,,hehee,, 
  • Bwdd ahoong ,, masih ingat masalah kertas pink,,HVS ?? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar